Bekal Ibadah Haji

September 15th 2013 | Posted by

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh KH Didin Hafidhuddin

Di dalam Alquran Surat Al-Baqarah: 197 “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (kata-kata kotor), berbuat fasik (zalim kepada yang lain) dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”.

Ayat ini secara tegas menyatakan persiapan yang harus dimiliki oleh setiap jamaah calon haji, di samping hal-hal yang bersifat fisik material, termasuk uang dan barang-barang lainnya, juga hal-hal yang bersifat spiritual dan rohaniah yang menguatkan akhlak dan perilaku yang baik, serta menjauhkan dari perilaku yang  buruk dan tercela, terutama tiga perilaku yang secara eksplisit diungkap dalam ayat tersebut.

Pertama, dilarang mengeluarkan kata-kata dan ucapan yang kotor dan kasar yang tidak pantas dan tidak layak diucapkan di tanah haram, terlebih lagi pada saat berpakaian ihram, seperti kata-kata yang berbau porno, menyakitkan, atau berisikan cacian dan hinaan.

Selanjutnya harus diganti dengan ucapan-ucapan yang mencerminkan kepatuhan dan ketundukan hati kepada Allah SWT, seperti tasbih, tahmid, takbir, tahlil, doa, membaca salawat kepada Nabi SAW, dan memperbanyak membaca Alquran.

Kedua, dilarang berbuat fasik dan zalim serta aniaya kepada sesama jamaah atau pada makhluk Allah SWT lainnya yang hidup di tanah haram, termasuk dilarang merusak dan mencabuti tanaman yang tumbuh, serta berburu atau membunuh binatang. Dan juga dilarang berdusta, berbohong dan menipu orang lain.

Ketiga, dilarang berbantah-bantahan yang menyebabkan timbulnya permusuhan dan pudarnya semangat persaudaraan atau ukhuwah islamiyyah terutama antar sesama jamaah, baik yang berasal dari satu daerah atau satu negara, maupun dari daerah dan negara lain.

Semua jamaah haji harus harus larut dalam suasana keakraban, kekeluargaan, saling menolong dan saling membantu yang mencerminkan satu tubuh (kal jasadil waahid) atau satu bangunan yang solid (kalbunyaan yasyuddu ba’duhu ba’dhan).

Hal-hal tersebut itulah yang harus menjadi bekal utama dari setiap jamaah calon haji, yang kalau dilatih dan dibiasakan selama ibadah haji, mudah-mudahan akan menjadi perilaku utama yang masuk ke dalam struktur kepribadian para jamaah.

Dan itulah oleh-oleh yang seharusnya dibawa oleh para jamaah ketika kembali ke Tanah Air dan ke tempat masing-masing. Adanya peningkatan perilaku yang semakin baik dari sebelumnya.

Dan itulah yang dikatakan haji mabrur sebagaimana dikemukakan oleh Imam Hasan al-Basri (Fiqh Sunnah Vol. 5) ayyakuuna ahsana min qablu wa ayyakuuna qudwata ahli baladihi (perilakunya lebih baik daripada sebelumnya dan menjadi panutan masyarakat lingkungannya).

Selamat melaksanakan ibadah haji. Semoga mempersiapkan bekal takwa dan membawa oleh-oleh perubahan perilaku yang lebih baik. Wallahu A’lam.

Related Posts

Memaknai Ibadah

khotbah Jum'at 7 Februari 2014 Ustadz Doddy Al Jambary Janganlah selalu berpandangan yang sempit tentang ibadah yang selama ini kita lakukan. Ibadah bukanlah hanya sebatas sholat, puasa, zakat, umroh atau haji. Ibadah begitu luas, seperti yang termaktub dalam al Qur'an: ”Dan tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk [...]

Musibah

Oleh: Ustaz Yusuf Mansur Musibah baik yang terjadi di darat, laut, dan udara adalah sebuah sunnatullah. Selain musibah merupakan ujian atau azab. Artinya, dalam kondisi apapun seharusnya kita siap menghadapi musibah yang datang. Andai kita siap, bila musibah terjadi di sekitar kita atau menimpa diri kita, maka insya Allah kita akan husnul [...]

Siapkan Energi Untuk 10 Hari Pertama Dzulhijjah!

Oleh: Badrul Tamam Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya. Salah satu dari karunia Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah dengan menjadikan beberapa musim ketaatan dan melipatgandakan pahalanya. Sehingga mereka terdorong [...]

Allah Bertanya: Mana Syukurmu?

Sebenarnya kita ini diberi oleh Allah banyak anugerah baik kesehatan, ilmu, keluarga, rezeki, kedudukan dan banyak lainnya lagi. Hanya saja sering orang merasakan bahwa hal itu bukan sebagai pemberian Allah melainkan semata usaha manusiawi. Hasil keringatnya sendiri. Sesungguhnya semua itu Allah yang memberi dan mengaturnya, untuk menguji apakah [...]

11 September Ternyata hari Kelahiran Yesus?

VOA-ISLAM.COM - Sebelas September dikenal sebagai peringatan yang menyedihkan buat Amerika, dimana pesawat udara menabrak Gedung WTC. Namun ternyata menurut Joseph Dumond, penulis "Remembering the Sabbatical Years of 2016, 2023, 2030, 2037, 2044" mengatakan bahwa kemungkinan Yesus juga lahir di tanggal VOA-ISLAM.COM - Sebelas September dikenal [...]

Leave a Reply:

Name (required):
Mail (will not be published) (required):
Website:
Comment (required):