Masuk Surga Sekeluarga

Maka menjadi syarat mutlak dikumpulkannya kita dengan seluruh keluarga besar kita di kampung halaman yang abadi di Syurga Nya Allah Subhanahu Wa Ta’ala kelak, adalah dengan bekal keimanan dan ketaqwaan yang benar, yang dimiliki seluruh keluarga besar kita.

Ust . BacUBNhtiar Natsir, Lc. MM

Kita awali dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ (الطور: 21)

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”. (At Thur: 21)

Ibnu Katsir Rahimahullahu berkata, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberitahukan tentang karunia, pemberian, anugrah dan kasih sayang-Nya kepada makhluk-Nya serta kebaikan Allah kepada mereka:

Apabila orang-orang yang beriman diikuti oleh keluarga-keluarga mereka dengan keimanan maka mereka akan mengikuti bapak-bapak mereka dalam tingkatan surga, sekalipun amal-amal mereka tidak sampai pada tingkatan tersebut agar bapak-bapak mereka merasa senang dengan keberadaan anak-anak mereka bersama mereka pada tingkatan yang sama, Allah Ta’ala akan mengumpulkan mereka dengan wajah yang paling baik, Allah Ta’ala mengangkat orang yang kurang amal shalehnya dengan mereka yang amalannya sempurna dan tidak mengurangi dari jumlah amal mereka sedikitpun dan tidak pula tingkatan mereka, agar tingkatan mereka menjadi sama antara dirinya dengan yang lain”. (Tafsir Ibnu Katsir)

Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma berkata,

إن الله تبارك وتعالى ليرفع ذرية المؤمن في درجته وإن كانوا دونه في العمل …….

“Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi mengangkat derajat keturunan orang-orang yang beriman pada tingakatan yang didapatkannya di dalam surga sekalipun di antara mereka ada yang amalnya kurang…”, agar mereka senang dengan kebersamaan mereka dengan para keturunan mereka, kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala:

Dan orang-orang yang beriman, serta anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan,

Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah karunia Allah Ta’ala kepada anak-anak karena keberkahan amal bapak-bapak mereka. Adapun karunia Allah Ta’ala bagi anak-anak untuk bapak-bapak mereka karena do’a anak-anak mereka adalah, seperti apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam musnadnya dari hadits Abi Hurairah Radhiallahu Anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

إن الله ليرفع الدرجة للعبد الصالح في الجنة فيقول : يا رب أنى لي هذه ؟ فيقول باستغفار ولدك لك (رواه أحمد )

“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di dalam surga, dan hamba itu bertanya: Wahai Tuhanku bagaimana aku bisa mendaptakan derajat ini?. Maka Allah berfirman: Karena istighfar anakmu bagimu”. (Musnad Imam Ahmad)

Menjadi orangtua masa kini haruslah menjadi orangtua yang super, mengapa demikian? Tak bisa dipungkiri, Di zaman ini, era sosialita gadget menjadi ‘teman akrab’ yang boleh dikatakan menemani keseharian keluarga kita. Baik besar, kecil, remaja, dewasa dan orang tua tak luput tergiring tren yang tak segan-segan menghanyutkan keimanan kita.

Orangtua beriman akan diikuti dengan anak beriman, karena mereka mengajarkan satu konsep ketuhanan yang sama yaitu Allah tidak dilahirkan maupun melahirkan (Tauhid).

Jika orangtua beriman ini masuk surga, dan anak-anak merekapun masuk surga, namun jika orangtuanya memiliki kadar amal yang lebih tinggi daripada anaknya, maka Allah Ta’ala akan mensejajarkan dengan kadar amal orangtuanya. Jadi, orang tua harus mengajak anak pada keimanan agar anak bisa mengikuti orang tuanya hingga ke syurga.

Lalu bagaimana jika orangtuanya tidak beriman dan tidak masuk surga, apakah kadar amal anak yang beriman dan masuk surga akan berkurang? Tidak, karena anak keturunan tidak mendapat manfaat apapun dengan ketidak shalehan bapaknya, (At Thur: 21).

Allah Ta’ala juga tidak akan mengurangi sedikitpun kadar amal anak tersebut karena setiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.

كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya

Ketika orangtuanya dalam kondisi penat, maka akan terkoneksi dengan kondisi anak. Apabila seorang ibu yang sedang dilanda penat, lalu dia mengaji dan tenang, maka akan dengan sendirinya menggerakkan suami dan anak-anaknya, karena seorang ibu merupakan bidadari surga dari rumahnya.

وَأَمْدَدْنَاهُم بِفَاكِهَةٍ وَلَحْمٍ مِّمَّا يَشْتَهُونَ{22} يَتَنَازَعُونَ فِيهَا كَأْساً لَّا لَغْوٌ فِيهَا وَلَا تَأْثِيمٌ{23}

“Dan kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini. Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaedah dan tiada pula perbuatan dosa”. (At Thur: 22-23)

Ada tambahan nikmat lain di surga yang Allah berikan kepada orangtua-orangtua yang berhasil membawa anak cucunya ke syurga.

Tambahan nikmat tersebut, bukan cuma sekedar bisa meng-upgrade surga anak-cucunya sejajar dengannya walaupun anak cucunya kurang amal shalihnya, tetapi Allah memberikan tambahan lain berupa buah-buahan. Buah-buahan dan daging-daging tersebut diberikan bagi keluarga yang menjaga hidangan halal di rumahnya sewaktu di dunia.Para penghuni syurga makan bukan karena lapar tapi karena enak, buah-buahan dan daging disajikan sesuai bentuk yang diinginkan dipilih sesukanya.

Jadi, cara menciptakan surga di dunia adalah sedini mungkin belajar menjadi orangtua yang beriman, dan bersabar menahan makanan yang tidak halal di dunia.

Jika ingin menjadikan suasana rumah laksana surga dunia, diantaranya:

Harus menjadikan rumah sebagai rumah ibadah, rumah yang digunakan untuk beribadah dari yang wajib sampai sunnah

Rumah harus menjadi rumah ilmu

Ilmu adalah alamat yang dapat mempertemukan kita dengan Allah

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ

“Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan”.(Az-Zukhruf: 70)

Apabila rumah mau baik jangan menggunakan narasi “qola ayah atau qola ibu” namun “qola Allah”

يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِصِحَافٍ مِنْ ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ ۖ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ ۖ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya”. (Az-Zukhruf: 71)

Rumah harus menjadi benteng keluarga dari pengaruh buruk luar

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At-Tahrim: 6)

Suasana rumah laksana rumah surgawi akan terwujud dengan catatan setiap anggota keluarga harus melaksanakan perannya masing-masing. Dan inilah visi utama dari sebuah keluarga yang beriman.

Diantara cara menjadikan rumah sebagai benteng keluarga, yaitu:

Membacakan ayat kursi di setiap sudut ruangan (Cara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam)Membaca Ta’awudz ketika membersihkan kamar (Cara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam)Membaca Al Fatihah didalam rumah (Cara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam)Mengucap salam setiap masuk ruangan (ada atau tidak ada orangnya, karena akan menjadikan tempat tersebut tentram)Membuat grup khusus keluarga untuk memudahkan komunikasi dan saling berbagi informasi yang bermanfaat.

وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَّهُمْ كَأَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَّكْنُونٌ

“Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan”. (At Thur: 24)

Seorang ibu merupakan bidadari surga dari rumahnya. Setiap anak dibentuk menjadi calon penghuni surga, dan para suami dibekali dengan iman yang kuat, sehingga ketika mereka dalam kedudukan yang tinggi maka tidak tersesat. Sehingga suasana rumah dibangun sedemikian rupa. Jika seorang ibu yang berhasil membawa anaknya masuk surga, maka balasan dari kelembutan dan kepasrahan seorang ibu di dunia adalah pelayanan ekslusif oleh pemuda tampan yang mengganggap sang ibu seperti mutiara yang berharga.

Lalu bagaimana ceritanya mereka bisa masuk surga?

وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ

“Dan sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain saling tanya-menanya”. (At-Thur: 25)

Caranya, saling mengingatkan tentang dahsyatnya siksa neraka

قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ

Mereka berkata: “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)”. (At-Thur: 26)

Lalu bagaimana jika, orangtua beriman tetapi anaknya tidak beriman sebagaimana orangtuanya? Atau sebaliknya?, maka dalam Al Quran surat Al Mumtahanah ayat 3, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَن تَنفَعَكُمْ أَرْحَامُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَفْصِلُ بَيْنَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-sekali tiada bermanfaat bagimu pada hari kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (Al Mumtahanah: 3)

Turunnya ayat ini berkaitan dengan Shahabat Hathib bin Abi Balta’ah (seorang Muhajirin dan ahlu Badr), yang mengirimkan surat kepada orang Quraisy di Makkah bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam akan menaklukan Makkah, dan agar mereka menjaga anak keluarga Hathib bin Abi Balta’ah di Makkah yang masih kafir. (lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir dan kitab Asbabunnuzuul).

Dalam surat Az Zukhruf Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الْأَخِلَّاء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Saudara yang saling mencintai, pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”. (Az Zukhruf: 67)

Maka menjadi syarat mutlak dikumpulkannya kita dengan seluruh keluarga besar kita di kampung halaman yang abadi di Syurga Nya Allah Subhanahu Wa Ta’ala kelak, adalah dengan bekal keimanan dan ketaqwaan yang benar, yang dimiliki seluruh keluarga besar kita.

Sebagai penutup, jika menginginkan suasana romantis di dalam rumah, maka mulailah dengan hal paling sederhana yaitu mengucapkan salam ketika masuk rumah, kamar dan tiap ruang rumah.

Dan ini juga merupakan penangkal dari gangguan jin. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak dikatakan beriman hingga kalian bisa saling mencintai.

Maukah kalian aku tunjukkan terhadap satu amalan yang bila kalian mengerjakannya kalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kalian”. (HR. Muslim)

Dalam hadits di atas terdapat hasungan yang besar untuk menyebarkan salam kepada kaum muslimin seluruhnya, yang dikenal ataupun yang tidak.

Dan salam merupakan syiar kaum muslimin yang membedakan mereka dengan non muslim.

Salam merupakan sebab awal tumbuhnya kedekatan hati dan kunci yang mengundang rasa cinta. Dengan menyebarkannya berarti menumbuhkan kedekatan hati di antara kaum muslimin, selain untuk menampakkan syiar mereka yang berbeda dengan orang-orang selain mereka. (Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu)

Wallahu Ta’ala A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published.