Tamu-tamu Kecil di Masjid

" Eyang Joko, sepeda saya rusak lagi. Sholeh tidak berani ngomong ke eyang Joko, karena Sholeh tidak dibolehin lagi sama mamaknya ke rumah eyang Joko".

Joko Susilo

anak-lari-lari-dimasjidKemarin saya membuat catatan kecil tamu2 di masjid, saatnya kini saya menulis tentang ‘tamu2 kecil’ yang sering menghiasi rumah Allah.
Tubuh mungilnya, tawa cerianya, wajah imutnya dan ada kalanya riuh gaduhnya membuat jama’ah dewasa merasa terganggu, bahkan ada yang sampai marah, seolah bapak2 itu tak pernah menjadi anak kecil, atau barangkali belum mempunyai cucu.

Masjid kami halamannya menyatu dengan halaman sekolah, SD yang bersama masjid berada dibawah pengelolaan yayasan yang sama. Kehadiran anak2 murid dimasjid akan semakin terasa, khususnya di setiap hari Jum’at. Namanya juga anak2, berceloteh, tertawa, bercanda adalah dunianya. Makanya untuk meredusir kebisingan anak2 tersebut, setiap hari Jum’at kami menggiring anak2 ini ke lantai dua dan harus diawasi oleh guru2nya. Agak tidak pas memang, diamnya, ‘khusyuknya’ anak2 memang kami peroleh, namun diam itu karena ada wajah galak bapak ibu gurunya yang bersama mereka, bukan dan belum sampai kepada kesadaran bahwa didalam masjid harus tenang dan khusyuk. Sebuah proses belajar untuk anak2.

Yang ingin saya sharing disini  bukan jama’ah murid2 tadi, tapi wajah2 imut, segarnya anak2 yang menyelip diantara wajah2 senior jama’ah yang mendominasi shaf2 di dalam masjid.

Dengan sarung terselempang di tubuhnya, mengayuh sepeda BMXnya, anak ini rajin sekali ke masjid. Saya perhatikan anak ini dari usia TK sudah menjadikan masjid sebagai tempat yang paling sering dikunjungi, dulu masih berangkat dan pulang bersama kakeknya, sang kakek ini termasuk ‘anggota pasukan pendiri masjid kami’.

Akhir2 ini si anak sudah datang sendirian ke masjid, dengan fisiknya yang relatif bongsor, dan baju gamis yang dikenakan, jama’ah lain pasti menduga anak ini orang dewasa, tapi kalau menatap raut wajahnya, baru ketahuan masih berwajah polos tanpa dosa.
Sayang beberapa hari ini wajah ini menghilang dari shaf2 jama’ah di masjid kami, konon salah satu jama’ah senior kami melarangnya untuk sholat berjama’ah di shaf terdepan. Saya sampaikan ke jama’ah senior ini, kalau berada di belakang imam sebaiknya diminta untuk bergeser, namun kalau di shaf terdepan disayap kanan dan kiri biarkan saja, karena memang anak ini datang lebih awal, disaat shaf terdepan masih kosong, sementara jama’ah bapak2 belakangan datangnya. Bapak ini bersikekeuh bahwa hirarki shaf adalah bapak2, anak2 dan baru ibu2.
kel1
Lhah anak ini sudah kelas 5 SD, sudah berusia 12 tahun, sudah baligh, kalau sholat sudah focus dan utuh gerakannya, bukan lagi anak2 yang ketika sholat masih asyik dengan gerakan2 semaunya. Namun penjelasan saya belum bisa diterima, ya sudahlah, semoga pelan2 bapak ini mengerti, harus berkepala dingin menghadapi perbedaan pemahaman seperti ini, saya memilih menghindari berantem. Sekarang saya kangen menunggu wajah anak ini di masjid 😭.

Dalam seminggu dua minggu terakhir ini setiap hari saya mendapati dua orang anak yang saya duga berumur 7 atau 8 tahun yang selalu minta bersalaman selepas sholat. Kalau saya menjadi imam, kedua anak ini menunggu sampai saya sholat sunah ba’diah, terkadang malah menyelonong ke mihrab tempat  imam, kalau saya berada dalam shaf terdepan, anak2 ini mencolek punggung saya dari belakang, mengajak bersalaman. Jama’ah2 yang menganggap ber-salam2an sesudah sholat itu bid’ah, pasti tidak ‘happy’ melihat apa yang dilakukan anak2 ini.

Sampailah akhirnya saya menemukan alasan mengapa anak2 ini selalu mengajak bersalaman dengan saya.
Selepas sholat ashar yang tanpa ada sholat ba’diah itu, anak yang besar berkata begini :” Eyang Joko, sepeda saya rusak lagi. Sholeh tidak berani ngomong ke eyang Joko, karena Sholeh tidak dibolehin lagi sama mamaknya ke rumah eyang Joko”. Ya Allah, sejujurnya saya lupa kalau saya pernah memperbaiki sepeda anak ini, anak ini teman si Sholeh ini. Selama ini memang Sholeh ‘mengiklankan’ saya kepada teman2nya, kalau sepeda rusak bawalah ke eyang Joko. Sholeh tidak salah, dimata Sholeh, anak yang berkebutuhan khusus itu, saya adalah sepeda rusak, tetapi mamaknya Sholeh kemudian melarang keras Sholeh membawa anak2 dengan sepeda rusaknya ke rumah, jangan mengganggu pak Joko, sergahnya keras kepada Sholeh, padahal saya tidak merasa terganggu.

Namun namanya juga anak2, mereka tak kehabisan akal, dibuntutilah saya ke masjid 😀. Setelah stang sepedanya saya kencengin dan tidak bengkak bengkok, tidak belak belok sendiri, si anak ini tak lagi saya lihat di masjid 😭.

Anak yang ini lain lagi, ayahnya memang seorang mualaf chinese yang sudah almarhum, wajah anak ini sungguh menggemaskan, tubuhnya bulat gempal, dengan mata sipitnya berkulit bening bersih, selalu memakai sarung dan kopiah cantik setiap kali ke masjid. Kalau membaca Ar Rahman menjadi ‘Al Lohman’, anak ini tidak bisa membaca huruf ‘R’. Barangkali mamanya cerita ke anak ini kalau saat jenazah ayahnya dikuburkan, saya termasuk orang yang masuk ke liang lahat. Anak ini sangat santun dan hormat sekali setiap kali ketemu saya, rasa hormatnya sering membuat saya merasa tidak enak, makanya sering dia saya peluk2 agar kami sejajar posisinya.

Ada fenomefamilyna menarik dari keluarga2 muda, di hari2 libur, anak2 yang masih balita diajak ke oleh kedua orang tuanya ke masjid. Pengenalan masjid dan ibadah kepada anak2 ini merupakan upaya yang sangat baik. Apabila dari kecil anak2 sudah diajak mencintai masjid, insya Allah setelah tumbuh menjadi remaja, akan menjadi anak muda yang hatinya tertambat di baitullah, setelah tua maka rumah Allahlah yang akan menjadi dermaga tempat berlabuhnya biduk cintanya setiap harinya. Hanya saja, anak balita adalah anak yang tak bisa diam, anak yang kelebihan energi, jadi ibundanya harus ekstra dalam menjaga anak2 tersebut agar tidak ber-lari2an dan berteriak di dalam masjid, apalagi saat sholat sedang berlangsung. Apabila upaya menanamkan kebiasaan untuk khusyuk didalam masjid semenjak anak masih balita, tentu dewasanya akan menjadi pribadi yang berkwalitas masjid, berhati masjid dan menjadi orang masjid.

Jama’ah kecil yang terakhir ini yang membuat saya sedih.
Berkata dia selepas Isya’ : ” Om, boleh saya belajar mengaji dengan om Joko?”
” Ayo kita belajar ngaji bersama sama, disini selepas maghrib kan ada kajian membaca Al Qur’an, setiap Selasa, Jum’at, Sabtu dan Minggu” Saya menghindar halus, karena saya tidak berpengalaman mengajar ngaji.
“Minta ke papa untuk mengajari mengaji, kan lebih asyik kalau sama papanya”. Saya coba kasih solusi, agar saya terlepas dari keinginannya untuk belajar mengaji dengan saya. Namun reaksi yang saya peroleh sungguh mengejutkan saya. “Bapak saya sudah bercerai dengan mamah om”. Nadanya berat, wajahnya mendongak, matanya menatap ke arah kubah masjid, ber-kaca2 dan terlihat sangat terluka. Saya mencoba setenang mungkin menghadapinya. Saya tepuk2 punggungnya :”Maafkan om, om tidak tau. Oke kapan kamu mau mulai mengaji sama om? Dimana? Disini, dirumah om? Dirumahmu? Eh rumahmu dimana?”
“Terimakasih om, kapan om bisa, saya harus pulang sekarang, mamah pasti mencari saya…” Cepat2 dia menyalami dan mencoba mencium tangan saya dan saya menolaknya, kemudian bergegas bangkit sambil mengucap salam keluar masjid.

Saya terdiam agak lama, saya dapat merasakan luka dihatinya, anak itu seperti merindukan sosok seorang ayah, anak itu memerlukan figur dan kehadiran ‘seorang imam’ yang hilang dalam hidupnya, tipikel sekali anak korban ego perceraian bapak ibunya.

Ahh berjalan pulang Isya’ kali ini terasa lain, malam yang berselimut mendung tebal, terasa turut memberatkan kaki ini untuk melangkah pulang, karena saya akan mempunyai tugas mengajari seorang anak belajar mengaji. Asli, pasti lebih berat dari pada saya mengayuh sepeda dari rumah ke pantai Marunda, pasti lebih terjal dari tanjakan setan di puncak gunung Gede…

js/berbagi kata/anak2 penghias rumah Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published.